Selasa, 31 Mei 2011

Berburu Pembantu Ke Lereng Gunung Sumbing

Sudah 3 bulan ini keluargaku tanpa si eMbak Atmini yang udah 4 tahun kerja di rumahku. Capeknya RRRRuaaarrr biasa tanpa si eMbak. Padahal itupun udah merger tugas dengan ibunda. Tetep aja aku dan ibu terengah - engah menyelesaikan pekerjaan yang dulu dituntaskan dgn cepat sama si eMbak. Mbaaakkk...kenapa kawin buru-buru seeehhh ?

Sabtu lalu aku dan sahabatku Mbak Erfin dan keluarganya pergi ke lereng gunung Sumbing buat cari pembantu pengganti si eMbak. Kita berangkat pagi, ditemani mBak Tiah sodara sepupu Atmini sebagai navigator ke desa Kali Angkrik. Ya Allah....ternyata desa itu ada di ujung runcing lereng gunung Sumbing. Magelang coret ke atas dech judulnya. Baru jam 14:00 wib, kabut gunung telah turun diatas desa. Bahkan penduduknya uda ada yang krukupan sarung sambil mengayak pasir bangunan. Aku dan keluarga mBak Erfin langsung menuju ke rumah mBak Tiah. Di depan jalan rumah Tiah terhampar tanah tegalan untuk daun bawang dan "klobor". Setelah kutanya klobor itu ternyata adalah sawi putih.

Aku melihat sekeliling rumah itu. Jika kita buka pintu rumah ,hawa dingin langsung menyambar tubuh kita. Mbak Erfin terlihat mulai menggeliat kedinginan pengen pipis, tapi takut kamar mandinya tidak sesuai standard...hehehe namanya juga di desa, kamar tamu berdampingan dengan kandang kambing dan tempat mencampur pupuk kandang. Sedaaaappp....begitu pintu kamar tamu dibuka, udara sejuk pegunungan bercampur aroma kotoran kambing sembribith dihidung kami. Saat si mBak Tiah hunting pembantu disekitar tetangga kanan-kiri, kami disuguhin secangkir teh hangat dan kue desa....Hmmmm sepertinya bisa bikin kita hangat sedikit.

Sang tuan rumah,Ibunya mBak Tiah mempersilahkan kami minum. Aku sempat terpana,mataku nanar...karena ibunya Tiah masih muda. Menurutku lbh muda drpd aku dan Erfin. Kutanya nyonya rumah penyaji minuman teh kami,berapa umurnya ? Dia jawab 30 tahun. Aku dan sahabatku pusing menghitungnya. Anaknya umur 15 tahun, Ibunya umur 30 tahun. Jadi umur berapa ibu ini menikah ? Dengan polosnya dia menikah dijodohkan saat umur 11 tahun...Waowww AMAZING....or terrible life ?
Di desa ini program KB Nasional GAGAL TOTAL, karena hawa yang dingin dari pegunungan kali ya ? Anak umur 15 tahun ,17 tahun sudah dikejar-kejar bapaknya untuk nikah. No wonder, mBak Atmini ku disuruh secepatnya nikah, karena udah umur 20 tahun. Aku dan mBak Erfin tertawa lepas, karena kami menikah umur 25 tahun. Di desa mereka,mungkin aku dan Erfin udah di anggap perawan tua. Padahal dikota , kita dibilang, kecentilan nikah umur 25 tahun.

Keajaiban masih berlanjut. Saat kami meminum teh dalam cangkir mungil ala cangkir keramik cina...mata kami menyipit. Karena tehnya tanpa gula dan terasa aneh...ternyata sudah jamak didesa ini teh bikinan rumah. Jadi daun teh dipetik dari kebun,kemudian disangrai sendiri pakai kayu bakar. Jadi lebih murah daripada beli teh bungkus katanya. Panteees rasanya nyengir...Sampai sore si Tiah belum dapat pembantu yang mau diajak ke jogja. Ada yang mau tapi tidak hari itu, harus hitung pasaran...sabtu legi,minggu pahing,senin pon tidak bagus katanya...hadooooohhhh....ini tangan udah pegel kalo nyari neton yang baek buat bawa kamu ke jogja

Disana saking dinginnya para wanita membalut tubuhnya bukan lagi dengan pashmina atau cardigan, tapi dengan handuk lebar ukuran handuk hotel buat jalan-jalan ke pasar sambil gendong anak. Aku dan Erfin manggut2 menatap para wanita yang umurnya jauuuuhhh dibawah kami, tapi anaknya sudah tiga. Bahkan air didesa tersebut lebih dingin dan lebih jernih daripada air di kulkas rumahku. Sayang disini tidak bisa ditanami sawah karena tidak ada mata air besar. Jadi cuma daun bawang,sawi,seledri dan cabe.

Itu sebabnya kami dijamu makan malam dengan nasi jagung,ikan asin dan sirinding. Kami makan sambil ditungguin sang nyonya rumah. Tentu saja suaminya Erfin makan sambil bilang sudah kenyang kok katanya. Andai Pak SBY tau rakyatnya masih ada yang makan nasi jagung, hanya beberapa kilometer diatas bekas tempat beliau sekolah militer dulu. Di desa Kali Angkrik sebenarnya subur, sayang pendidikan kurang dipentingkan. Kami baru melihat sebuah sekolah setelah beberapa kilometer dibawah desa itu.

Aku banyak belajar dari perjalanan mencari pembantu ini. Ternyata masih banyak rakyat kami yang jauh dari
layak dan sejahtera. Kita masih harus banyak bersyukur karena tiap hari makan nasi hangat dan pulen


Tidak ada komentar:

Posting Komentar