Minggu, 04 September 2011

Nga-"BEKTEN", Raja Kami Masih Dicintai Oleh Para Kawulo Rakyatnya

Selasa Pahing, Wuku Madangkungan, Tanggal 5/ September/ 2011 - Wulan Sawal 1432 H

Kawulo sedhanten sakeluargi sowan hing ngarsanipun panjenengan - Sepisan ngaturaken kawilujengan - Kaping kalih ngaturaken sungkeming pangabekti. Hing saklajengipun, ngaturaken sedaya lepat, lampah setindak wiraos saklimah hingkang mboten ndadosaken renaning penggalihipun panjenengan sedhanten - Kepareng kawula sakeluargi, kaparingana pangapunten lumunturing sih samudro pangaksami.
Wusono nyuwun tambah berkahing pangestu, mugi sedanten pangangkahipun kasembadan sedaya. Amiiin

" Yo, ng'Ger putro-putriku sing sun gadhang-gadhang kabeh.
Aku jejering wong tuwo ugo akeh lupute. Aku yo njaluk pangapuramu. Dening pandongaku kabeh anak turunku dadiyo wong kang becik lan utomo - Ora nerak angger-anggering agama lan negara. Gampang leh hanggolek sandang, papan lan pangan. Turah -turah nganthi kurang wadhah. Kelakon kabeh panjangkamu ugo kang mbok sedyani ning atimu, ng'Ger.... "

Begitulah tiap tahun kata-kata yang selalu always kami ucapkan dan kami dengar dari sejak kecil sampai kami sekarang sudah mulai tumbuh rambut uban dikepala kami. Orang bijak bestari berkata , jangan di cat uban2 rambut kita, karena uban itu adalah sinar penerang kita, sebagai penunujuk jalan menuju lorong surgawi kelak. Duuuuhhhh, emang gak ada yang bawa torch-light atau senter yaaaa, disana ?
Sejak kecil kami diajari "Lampah Dhodhok" (berjalan ngesoth dilantai menggunakan kedua lutut kita sebagai penahan)  untuk ngabekten dan sungkeman kepada para sesepuh eyang kami tiap bulan Syawal. Sampai dengkul lutut ini pada bertanda putih2 dikulitnya. Saat itu kami punya banyak eyang untuk disungkemi nyuwun pangabekten di ruang Senthong Tengah , pendapa Wasesonegaran.
Hal yang paling menyenangkan adalah saat sungkeman kita para KRUCIL cucu-cucu sampai cicit-cicit selalu mendapat hadiah ang pao LEBARAN. Seingatku dulu, kami para Krucil mendapat ang pao berupa segepok recehan hepeng logam nominal, seratusan atau seribuan baru dan selalu sebanyak 10 keping atau 10 lembar yang diikat dengan plastik / amplop putih mungil.
Can you imagine... berapa banyak ang pao yang kami dapat saat itu ??? Karena kami punya banyak Eyang yang semua rata-rata pengusaha batik.....Hehehe, hanya modal ngesoth dikarpet merah sungkem, kadang kita bisa dapat Rp.50.000 - Rp.100.000 ( Untuk ukuran ditahun 1980 - 1995an, duit sebanyak itu lumayan buanyyyaaak )

Sama seperti pagi ini yang kulihat di Alun-Alun Utara Kraton Jogja, banyak orang dari berbagai kelompok dan ormas semua berbondong-bondong ber-Syawalan ria dengan raja kami. Dari pintu gerbang utama depan Museum Sonobudoyo sampai depan Kraton udah penuuuuhhh, orang berbaris antri dengan sabar masuk Kraton untuk ngabekten dengan Raja-nya. Ada yang berbaris membawa panji bendera merah-putih. Ada juga yang berbaris memandu replika "Gunungan". Kayaknya hari ini semua pegawai instansi pemerintah juga gak kerja, tapi sowan ngabekten termasuk para wakil parpol. Alun-Alun Utara, Jalan KHA Dahlan sampai pertigaan Jalan Nyai Ahmad Dahlan tumpegh-bleeeghhh penuh macet.
Itulah bedanya orang Jogja dengan orang Jakarta....Orang Jogja sabaaarrrr untuk antri padahal puaaanaaasss luar biasa di tengah Alun-Alun untuk antri, dan tidak ada demo "anti penguasa/raja". Semua ridla dan ikhlas untuk bertemu dengan Sinuwun kami. Raja kami sangat ngemong dengan apa maunya rakyat. " Suara rakyat adalah Suara Tuhan " Itu sebabnya Sinuwun kami mengadakan open house lebaran hari ini di Kraton. Karena Sinuwun ingin mendengar & menyapa "suara-suara Tuhan". Satu hal yang banyak tidak dipunyai oleh para pejabat Ibukota.

Yang menjadi pertanyaanku , apa nggak pegel ya asto( tangan )-nya Sinuwun ? Menerima semua uluran dan jabat tangan kawulo yang jumlahnya ribuan dari pagi sampai sore ini ? Pasti ada juru petegh Sinuwun ( tukang pijat ) yang sudah stand by 1 and stand by 2 untuk mengantisipasinya malam ini.
Apapun pemandangan santun & tertib dari rakyat Jogja yang terlihat gembira dari tadi pagi, tetap menunjukkan bahwa kami masih mencintai Raja kami. Sama seperti kami mencintai ayahanda Sinuwun almarhum Sri Sultan IX yang sebelumnya. Tahta mereka memang diperuntukkan bagi kesejahteraan dan ketenangan rakyat Jogja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar