Hari Sabtu tanggal 5 Mei 2012..,
Aku lagi aseeek rebahan di tempat tidur, sambil terima telephone temanku. Saat nada tunggu tuba-tiba terdengar di cell phone aku. Ketika ku jawab, suara renyah sohib SMA ku Alexandra Ika " Kamu lagi apa ? Aku kangeeeen banget ama kamu....Ayo maen donk kerumahku. Hari ini Lies ama Diah juga main kerumahku ". Weeewww.....sayang banget weekend yang kangen ma gue ternyata bukan si dia, tapi cewe sohibku..hu-hu-hu-hu...Aku jawab " Makasih ya Ika, kamu kangen ma aku...Aku juga kangen ama kamu. Udah deh minta Lies jemput ke rumahku ? "....Okay, kata Ika dengan senang hati banget....Sukses mengumpulkan teman lama.
Rumah Ika tidak jauh dari rumahku dan Pendopo Dalem Resto. Sebuah daerah kuno dekat Pasar Ngasem. Ternyata dia mengundang kami untuk berbagi kebahagiaan . Ika punya toko kue sendiri, Cyiiiinnnn...Namanya Omah Roti...Rumah yang dijadikan toko kue mungil menjual kue kering & brownies kukus. Saat aku and Lies tiba, Diah & Intan udah ada disana, duduk manis di depan pernak-pernik kue buatan masing-masing. Weeewww...minder.com gue. Apalagi begitu nyampe Lies mengeluarkan ajian serat jiwanya...lasagna panggang buatan sendiri. Of Coure oguth kaga enak ati ...datang cuma bawa badan. Aku bilang" Tadi gue juga benernya mo bawa roti buatan sendiri....Roti Tawar isi Selai..." Intan berkomentar " Iyaaa...Roti Isi Mises, dengan misesnya yang menuhin roti tawarnya...!" Gank lamaku pada ketawa ngakak.
Senang rasanya ketemu ama sohib-sohib erat jaman sekolahan itu. Serasa nge-dopping diri awet muda lagi. Lies bercerita tentang bisnis ice yogurtnya yang dia setor ke kantin-kantin sekolah. Diah bikin sponge cake dan dibawa ke kantornya. Diah bekerja di Commonwealt Insuranse. Client dia prospek dengan produk asuransinya. Teman kantornya, dia prospek dengan kue-kue hasil kreasinya. Intan tetap dengan bisnis saladnya. Aku senang melihat sohib-sohibku semua mandiri dengan bisnis mereka. Bisnis para ibu rumah tangga. Aku juga kepingin punya bisnis sendiri, tapi tidak tau mau bisnis apa ? Rasanya jenuuuuh....dari dulu sampai sekarang ikut orang & diperintah orang.
Aku mengucapkan berduka cita kepada sahabat manisku Diah, karena suaminya, almarhum Mas Eko meninggal lebih dari 100 hari yang lalu. Itulah hebatnya kekuatan sahabat, ketika ngumpul kami berbagi rasa, berbagi bahagia & duka. Diah bercerita bahwa betapa hari-harinya dilalui dengan rasa sedih karena almarhum Mas Eko pergi dengan tiba-tiba tanpa sakit. Dan hal yang paling membuat aku merinding adalah : Saat pergi ke rumah sakit almarhum masih dalam keadaan baik, membuka pintu pagar rumah & masuk ruang UGD sendiri, sehingga Diah menunggu di ruang tunggu UGD. Karena Diah merasa suaminya baik-baik saja & saat itu ngobrol dengan dokter UGD. Tapi tiba-tiba susternya menjerit memanggil Diah agar segera masuk ke ruang periksa. Dan saat itu dia melihat suaminya terjatuh dari tempat tidur & sudah dalam keadaan mengorok. Salah satu ciri manusia saat diambil nyawanya adalah mengorok, karena saat itu roh tubuh kita tercabut dari badan kita. Diah langsung menggendong & memapah tubuh suaminya kembali ketempat tidur sambil berteriak " Dokter !!! Bantu suami saya berbaring lagi ke atas !!" karena Diah melihat Dokternya hanya tertegun saja karena kaget dengan apa yang terjadi. Akhirnya dibantu suster & dokter almarhum ditidurkan kembali & langsung diberi CPR, tapi tetap beliau pergi untuk selama-lamanya, Jenasah sampai dirumah jan 02:00 pagi dibawa dengan ambulan. Aku sempat mau menangis karena Diah bercerita, begitu jenasah sampai dirumah, hanya ada Diah, dengan kedua putranya & almarhum yang telah terbaring dalam peti. Itu sebabnya Diah tidak mau peti jenasah dibuka, karena hanya dia dan anak-anak menunggu almarhum dirumah itu. Aku bertanya apa tidak ada tetangga & saudara yang datang menemani ? Itu yang membuat Diah sedih.... Pertama, mereka penduduk baru, yang kedua mereka tidak punya tetangga karena kiri-kanan-depan-belakang rumah mereka hamparan sawah. Ada tetangga tapi tetangga desa kanan jauh. Dan menurut Diah saat dikabarin suaminya meninggal, semua saudara-saudaranya tetap tidur dirumah masing-masing malam itu. Diah cerita, dini hari itu dia bilang keanak-anaknya agar jangan nakal & lebih banyak membaca doa didepan peti jenasah ayah mereka sampai pagi hari, saat tetangga mulai berdatangan jam 07:00 pagi. Menurut Diah, peti jenasah baru dia perbolehkan untuk dibuka saat jenasah akan diberangkatkan dari rumah duka. Kami semua menghela napas panjang, karena tidak ada satupun dari kami yang tahu & datang takziah kalau Diah sedang berduka saat itu.
Dan kami semakin terdiam empati saat Diah cerita, 3 hari setelah kepergian almarhum, Diah bermimpi almarhum datang. Dan Diah menangis dalam mimpi itu, bertanya kepada almarhum : mengapa almarhum pergi begitu cepat & tanpa kata-kata perpisahan ? Menurut Diah saat itu sepertinya almarhum juga berkata, bahwa almarhum juga sebenarnya juga kaget mendapati dirinya sudah di alam lain & tidak dapat kembali bersama dengan Diah & anak-anak malam itu. Tapi menurut kata suaminya dalam mimpi tersebut....Malam itu saat mereka sudah dirumah bersama, almarhum bilang sebenarnya almarhum mengelus satu persatu kepala anak-anak mereka kok. Tapi mereka tidak bisa merasakan kehadiran almarhum. Aku bilang pada Diah, mungkin itu saat dimana hanya ada jenasah, Diah & anak-anak yang menjaga. Beberapa hari kemudian, dalam mimpi lagi almarhum mendatangi Diah dan mengatakan bahwa almarhum sedang membangun rumah barunya disana. Dalam mimpi tersebut Diah melihat rumah baru tersebut sedang dibangun fondasinya. Sementara tetangga kanan kirinya, ada yang baru membuat rumah 1/2 jadi, ada yang baru pasang fondasi.....Sebuah rahasia alam yang tidak akan pernah kita pahami & mengerti bagi kita yang masih hidup. Tapi aku percaya, semua mimpi sahabatku ada maknanya dan ada message tersembunyi dari mimpi itu.
Tak terasa hari beranjak sore, kami pun berpamitan pada Ika. Kami kembali dengan membawa cerita kehidupan masing-masing. Dan kami masih berharap dapat berkumpul lagi, berbagi rasa & cerita dilain waktu. Persahabatan akan selalu ada dalam suka & duka. Karena persahabatan itu abadi
Aku lagi aseeek rebahan di tempat tidur, sambil terima telephone temanku. Saat nada tunggu tuba-tiba terdengar di cell phone aku. Ketika ku jawab, suara renyah sohib SMA ku Alexandra Ika " Kamu lagi apa ? Aku kangeeeen banget ama kamu....Ayo maen donk kerumahku. Hari ini Lies ama Diah juga main kerumahku ". Weeewww.....sayang banget weekend yang kangen ma gue ternyata bukan si dia, tapi cewe sohibku..hu-hu-hu-hu...Aku jawab " Makasih ya Ika, kamu kangen ma aku...Aku juga kangen ama kamu. Udah deh minta Lies jemput ke rumahku ? "....Okay, kata Ika dengan senang hati banget....Sukses mengumpulkan teman lama.
Rumah Ika tidak jauh dari rumahku dan Pendopo Dalem Resto. Sebuah daerah kuno dekat Pasar Ngasem. Ternyata dia mengundang kami untuk berbagi kebahagiaan . Ika punya toko kue sendiri, Cyiiiinnnn...Namanya Omah Roti...Rumah yang dijadikan toko kue mungil menjual kue kering & brownies kukus. Saat aku and Lies tiba, Diah & Intan udah ada disana, duduk manis di depan pernak-pernik kue buatan masing-masing. Weeewww...minder.com gue. Apalagi begitu nyampe Lies mengeluarkan ajian serat jiwanya...lasagna panggang buatan sendiri. Of Coure oguth kaga enak ati ...datang cuma bawa badan. Aku bilang" Tadi gue juga benernya mo bawa roti buatan sendiri....Roti Tawar isi Selai..." Intan berkomentar " Iyaaa...Roti Isi Mises, dengan misesnya yang menuhin roti tawarnya...!" Gank lamaku pada ketawa ngakak.
Senang rasanya ketemu ama sohib-sohib erat jaman sekolahan itu. Serasa nge-dopping diri awet muda lagi. Lies bercerita tentang bisnis ice yogurtnya yang dia setor ke kantin-kantin sekolah. Diah bikin sponge cake dan dibawa ke kantornya. Diah bekerja di Commonwealt Insuranse. Client dia prospek dengan produk asuransinya. Teman kantornya, dia prospek dengan kue-kue hasil kreasinya. Intan tetap dengan bisnis saladnya. Aku senang melihat sohib-sohibku semua mandiri dengan bisnis mereka. Bisnis para ibu rumah tangga. Aku juga kepingin punya bisnis sendiri, tapi tidak tau mau bisnis apa ? Rasanya jenuuuuh....dari dulu sampai sekarang ikut orang & diperintah orang.
Aku mengucapkan berduka cita kepada sahabat manisku Diah, karena suaminya, almarhum Mas Eko meninggal lebih dari 100 hari yang lalu. Itulah hebatnya kekuatan sahabat, ketika ngumpul kami berbagi rasa, berbagi bahagia & duka. Diah bercerita bahwa betapa hari-harinya dilalui dengan rasa sedih karena almarhum Mas Eko pergi dengan tiba-tiba tanpa sakit. Dan hal yang paling membuat aku merinding adalah : Saat pergi ke rumah sakit almarhum masih dalam keadaan baik, membuka pintu pagar rumah & masuk ruang UGD sendiri, sehingga Diah menunggu di ruang tunggu UGD. Karena Diah merasa suaminya baik-baik saja & saat itu ngobrol dengan dokter UGD. Tapi tiba-tiba susternya menjerit memanggil Diah agar segera masuk ke ruang periksa. Dan saat itu dia melihat suaminya terjatuh dari tempat tidur & sudah dalam keadaan mengorok. Salah satu ciri manusia saat diambil nyawanya adalah mengorok, karena saat itu roh tubuh kita tercabut dari badan kita. Diah langsung menggendong & memapah tubuh suaminya kembali ketempat tidur sambil berteriak " Dokter !!! Bantu suami saya berbaring lagi ke atas !!" karena Diah melihat Dokternya hanya tertegun saja karena kaget dengan apa yang terjadi. Akhirnya dibantu suster & dokter almarhum ditidurkan kembali & langsung diberi CPR, tapi tetap beliau pergi untuk selama-lamanya, Jenasah sampai dirumah jan 02:00 pagi dibawa dengan ambulan. Aku sempat mau menangis karena Diah bercerita, begitu jenasah sampai dirumah, hanya ada Diah, dengan kedua putranya & almarhum yang telah terbaring dalam peti. Itu sebabnya Diah tidak mau peti jenasah dibuka, karena hanya dia dan anak-anak menunggu almarhum dirumah itu. Aku bertanya apa tidak ada tetangga & saudara yang datang menemani ? Itu yang membuat Diah sedih.... Pertama, mereka penduduk baru, yang kedua mereka tidak punya tetangga karena kiri-kanan-depan-belakang rumah mereka hamparan sawah. Ada tetangga tapi tetangga desa kanan jauh. Dan menurut Diah saat dikabarin suaminya meninggal, semua saudara-saudaranya tetap tidur dirumah masing-masing malam itu. Diah cerita, dini hari itu dia bilang keanak-anaknya agar jangan nakal & lebih banyak membaca doa didepan peti jenasah ayah mereka sampai pagi hari, saat tetangga mulai berdatangan jam 07:00 pagi. Menurut Diah, peti jenasah baru dia perbolehkan untuk dibuka saat jenasah akan diberangkatkan dari rumah duka. Kami semua menghela napas panjang, karena tidak ada satupun dari kami yang tahu & datang takziah kalau Diah sedang berduka saat itu.
Dan kami semakin terdiam empati saat Diah cerita, 3 hari setelah kepergian almarhum, Diah bermimpi almarhum datang. Dan Diah menangis dalam mimpi itu, bertanya kepada almarhum : mengapa almarhum pergi begitu cepat & tanpa kata-kata perpisahan ? Menurut Diah saat itu sepertinya almarhum juga berkata, bahwa almarhum juga sebenarnya juga kaget mendapati dirinya sudah di alam lain & tidak dapat kembali bersama dengan Diah & anak-anak malam itu. Tapi menurut kata suaminya dalam mimpi tersebut....Malam itu saat mereka sudah dirumah bersama, almarhum bilang sebenarnya almarhum mengelus satu persatu kepala anak-anak mereka kok. Tapi mereka tidak bisa merasakan kehadiran almarhum. Aku bilang pada Diah, mungkin itu saat dimana hanya ada jenasah, Diah & anak-anak yang menjaga. Beberapa hari kemudian, dalam mimpi lagi almarhum mendatangi Diah dan mengatakan bahwa almarhum sedang membangun rumah barunya disana. Dalam mimpi tersebut Diah melihat rumah baru tersebut sedang dibangun fondasinya. Sementara tetangga kanan kirinya, ada yang baru membuat rumah 1/2 jadi, ada yang baru pasang fondasi.....Sebuah rahasia alam yang tidak akan pernah kita pahami & mengerti bagi kita yang masih hidup. Tapi aku percaya, semua mimpi sahabatku ada maknanya dan ada message tersembunyi dari mimpi itu.
Tak terasa hari beranjak sore, kami pun berpamitan pada Ika. Kami kembali dengan membawa cerita kehidupan masing-masing. Dan kami masih berharap dapat berkumpul lagi, berbagi rasa & cerita dilain waktu. Persahabatan akan selalu ada dalam suka & duka. Karena persahabatan itu abadi

